BoB global sports betting platform_Crystal Baccarat_Baccarat odds

  • 时间:
  • 浏览:0

KisBaccarat Mobile DownloadaBaccarat Mobile Downloadh serupa ternBaccarat Mobile Downloadyata juga dialami seorang penjaga sekolah di Karawang, yang terpaksa menempati ruang guru untuk tidur bersama istri dan anaknya. Setiap jam pelajaran selesai, mereka ‘menyulap’ ruang guru menjadi kamar dengan alas tidur dan bantal guling seadanya. Penjaga sekolah itu hanyalah 1 di antara sekian banyak pegawai honorer di Indonesia yang menanti keadilan dan perhatian dari pemerintah, mengingat, mereka punya keluarga yang harus dihidupi…

Beruntung, beberapa kali mereka mendapat bantuan dari pihak lain apalagi saat honornya belum turun. Bantuan itu bisa digunakan untuk membayar sekolah anaknya yang sudah SMA. Destria juga kerap mengumpulkan botol-botol plastik untuk tambah-tambah.

Belum lama ini, kita dibuat miris dengan kisah yang dialami seorang guru honorer di Pandeglang, Banten. Ia dan suaminya harus tinggal di toilet sekolah lantaran tidak punya uang untuk merenovasi rumah. Banyak orang dibuat iba dengan kondisinya. Apalagi sebagai guru honorer, kabarnya ia hanya dibayar Rp350.000 per bulan, yang turun setiap 3 bulan sekali.

Destria berharap pihak sekolah bisa membantunya merenovasi rumah penjaga sekolah sehingga ia dan keluarganya tidak perlu lagi menempati ruang guru. Ia juga ingin pemerintah lebih memperhatikan nasib para penjaga sekolah dan tenaga honorer lainnya, supaya mendapat kehidupan yang lebih layak.

Karena paginya akan digunakan guru-guru untuk beraktivitas, Destria dan Iis harus bangun setiap pukul 4 subuh untuk merapikan kembali perlengkapan tidurnya. Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, barang-barangnya itu disimpan di warung tempat Iis berjualan. Warungnya masih berada di lingkungan sekolah.

Bagaimana bisa renovasi rumah, gaji saja katanya hanya Rp500 ribu per bulan. Belum lagi bagi tenaga honorer kategori II, gaji kerap cair 3 bulan sekali.

Destria Wibowo (42 tahun) dan istrinya, Iis Isnayanti (40 tahun), harus pasrah menerima kondisi yang mereka jalani sejak 14 tahun silam. Keduanya diketahui menempati ruang guru di SDN III Karawang Wetan, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, untuk tidur di malam hari bersama anaknya lantaran tidak memiliki rumah, seperti dilansir Kompas. Rumahnya sudah lama rusak dan mereka tidak punya biaya untuk merenovasinya.

Setelah murid-murid dan guru-guru pulang sore harinya, Destria kembali harus menggeser meja, menyisakan ruang untuk ia dan keluarganya tidur di malam hari. Rutinitas itu berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun.

Lagi-lagi Destria harus terbentur masalah biaya. Diakuinya, ia tidak sanggup jika harus merenovasi rumah khusus untuk penjaga sekolah dengan pemasukan yang pas-pasan. Istrinya memang membantunya berjualan, namun tetap saja penghasilan mereka hanya bisa digunakan untuk hidup sehari-hari.

Dikatakan Destria, saat ayahnya masih menjabat sebagai kepala sekolah, ia beserta keluarganya sempat tinggal di rumah dinas kepala sekolah yang letaknya juga masih di lingkungan sekolah. Tapi setelah ayahnya pensiun, rumah tersebut dijadikan ruang kelas. Ia pun terpaksa pindah ke gudang sekolah yang penuh rongsokan. Tidak tahan hidup berdampingan dengan nyamuk dan tikus, ia pun minta izin pihak sekolah untuk menempati ruang guru.